Wednesday, November 9, 2016

News Sore, 9-11-2016

HPX Community, [09.11.16 17:01]

#BMRI
DIRUT MANDIRI : REPATRIASI LAMBAT KARENA MENUNGGU SPV

IQPlus, (09/11) - Direktur Utama PT. Bank Mandiri Persero Tbk Kartika Wirjoatmodjo menilai belum agresifnya repatriasi dana dari amnesti pajak karena para wajib pajak menunggu rampungnya pendirian entitas bertujuan khusus (special purpose vehicle/SPV) di dalam negeri untuk menampung asetnya.

"Banyak yang 'unwinding position'. Wajib Pajak melakukan repatriasi dari properti dan surat berharga, kemudian mereka jual dulu asetnya dan bentuk SPV di sini," kata Tiko, sapaan akrab Kartika di Jakarta, Rabu.

Tiko mengatakan tertahannya repatriasi karena menunggu pendirian SPV tersebut banyak dilakukan WP badan atau korporasi. Sedangkan untuk WP individu, Mandiri melihat, instrumen yang banyak dipilih adalah asuransi berbalut investasi (unit-linked) dan pembelian surat berharga.

Ia mengaku Mandiri baru menerima Rp3 triliun dana repatriasi dari target Rp15 triliun. Penyerapan dana repatriasi juga oleh Mandiri, diakui Tiko, juga lebih rendah dibanding bank swasta yang memiliki jaringan di luar negeri.

"Lebih banyak tebusan, repatriasi kalah. Di kita mungkin nanti ada Rp15 Triliun repatriasi," tuturnya.

Menurut Tiko, banyak WP di luar negeri lebih memilih bank swasta untuk repatriasi, karena para WP sudah menjadi nasabah di bank swasta tersebut.

"Mungkin karena mereka sudah punya 'account' di bank lama, kaya di Singapura seperti Citibank, DBS. Jadi lebih nyaman dengan bank yang lebih lama, isunya di situ," imbuhnya.

Selain itu, Tiko juga melihat, perbankan di dalam negeri, perlu lebih banyak menelurkan terobosan di instrumen berdenominasi dolar AS untuk menampung dana milik WP.

Masih seretnya repatriasi ini juga ditambah pengambilan dana di perbankan oleh WP untuk membayar dana tebusan. Maka dari itu, Tiko memperkirakan, di triwulan IV-2016, likuiditas perbankan masih ketat. (end)

HPX Community, [09.11.16 16:54]
#BBRI
BRI GANDENG PPTKIS NTB SALURKAN KUR TKI

IQPlus, (09/11)  -  PT Bank Rakyat Indonesia menggandeng pelaksana penempatan tenaga kerja Indonesia swasta di Nusa Tenggara Barat dalam menyalurkan kredit usaha rakyat kepada para calon TKI yang akan bekerja di Malaysia.

Pemimpin Wilayah PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kantor Wilayah Denpasar Dedi Sunardi di Mataram, Rabu, menyebutkan ada tiga pelaksana penempatan tenaga kerja Indonesia swasta (PPTKIS) di NTB, yang menjadi mitra untuk menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) dan sudah menandatangani nota kesepahaman (MoU).

"Ada satu PPTKIS yang sudah siap mengakses KUR untuk penempatan 125 TKI ke Malaysia," katanya.

Menurut dia, upaya mendorong penyerapan KUR TKI di NTB, karena merupakan salah satu dari lima besar provinsi di Indonesia, yang menempatkan warganya sebagai tenaga kerja di Malaysia.

Data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), jumlah penempatan TKI asal NTB selama 5 tahun terakhir (2012-September 2016), tercatat 253.256 orang atau rata-rata 50.651 orang per tahun.

Jumlah tersebut mencapai 13 persen dari rata-rata penempatan TKI secara nasional dalam 5 tahun terakhir yang berjumlah 376.915 orang per tahun.

Dengan persentase jumlah penempatan TKI tersebut, maka TKI dari NTB menyumbang remitansi kurang lebih sebesar Rp17 triliun per tahun.

"Makanya dorongan menjalin kemitraan dengan PPTKIS untuk penyaluran KUR TKI di NTB, dalam rangka mencapai target BNP2TKI," ujar Dedi. (end/ant)


#AISA
TIGA PILAR RAIH LABA BERSIH Rp345,06 MILIAR HINGGA SEPTEMBER

IQPlus, (09/11)  -  PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) meraih laba bersih Rp345,06 miliar hingga periode September 2016 naik dibandingkan laba bersih Rp254,80 miliar periode sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Rabu menyebutkan, penjualan naik jadi Rp4,97 triliun dibandingkan penjualan Rp4,50 triliun dan laba bruto meninkat jadi Rp1,25 triliun dari laba bruto periode sama tahun sebelumnya Rp916,90 miliar.

Sementara laba usaha naik jadi Rp834,34 miliar dari laba usaha tahun sebelumnya Rp546,39 miliar. Laba sebelum pajak naik jadi Rp565,51 miliar dari laba sebelum pajak hingga September tahun lalu yang Rp367,32 miliar.

Total aset per September 2016 mencapai Rp8,62 triliun turun dari total aset per Desember 2015 yang Rp9,06 triliun. (end)


#LPKR
LPKR JUAL RUMAH SAKIT DI LABUAN BAJO

IQPlus, (09/11)  -  PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) melalui anak usaha yang dimiliki sepenuhnya yakni PT Pancuran Intan Makmur (PIM) telah menandatangani perjanjian dengan PT Prima Labuan Bajo (PLB).

Tjokro Libianto, Direktur Perseroan Rabu mengatakan PLB adalah perusahaan yang sahamnya dimiliki secara tidak langsung oleh First Real Estate Investment dimana PIM telah sepakan untuk menjual kepada PLB sebidang tanag di Jalan Gabriel Gampur, Manggarai Barat NTT seluas 2.837 m2.

Penjualan dilakukan berikut dengan sebuah bangunan rumah sakit baru yang beridir diatasnya yang dikenal dengan nama Siloam Hospiltas Labuan Bajo berikut dengan fasilitas dan seluruh perlengkapannya.

Nilai transaksi penjualan sebesar Rp179,05 miliar berdasarkan Akta Jual Beli bersyarat pada 7 November 2016. Nilai transaksi tersebut kurang dari 20% nilai ekuitas perseroan. (end)

No comments:

Post a Comment