Tuesday, November 8, 2016

Pemilihan Presiden AS: Clinton vs Trump

Oleh PSU:

Pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) yang sedang berlangsung hari ini. Sejak tadi malam terlah dilakukan pemilihan dan saat ini mulai dilakukan penghitungan suara. Sampai dengan pagi siang ini Trump telah memenangkan 190 eletoral area, sedangkan untuk Hillary Clinton 186 elektoral area. Untuk memenangkan pemilihan ini diperlukan 270.

Sebelum pemilihan dilakukan banyak media yang memperkirakan Clinton akan memenangkan pemilihan ini, salah satunya Wall Street Journal (WSJ). WSJ dalam websitenya menyatakan bahwa kemungkinan Clinton untuk memenangkan White House sebesar 85%. Jika melihat hasil perhitungan hari ini tampakan baik Clinton maupun Trump memiliki peluang yang sama besar.

Bagi Indonesia siapapun yang menjadi presiden AS efeknya akan cendrung sama tetapi mengingat kerja keras Clinton selama menjabat sebagai Menlu AS telah mengubah kebijakan politik luarnegeri AS pada Asia Tenggara.

Sebelumnya AS cendrung kaku kepada AS manun, belakangan AS mengeluarkan kebijakan “pivot”yang mengubah orientasi politik luar negeri AS ke arah Asia. Salah  satu negara pertama yang dikunjunginya sebagai Menlu AS adalah Indonesia, di mana ia dengan lantang menyatakan, "As I travel around the world over the next years, I will be saying to people, if you want to know whether Islam, democracy, modernity, and women's rights can co-exist, go to Indonesia."

Di bawah diplomasi Hillary Clinton, Amerika mengubah kebijakan AS yang sebelumnya cenderung kaku terhadap Asia Tenggara, menjadi lebih luwes dan proaktif. Pemerintah AS, setelah sekian lama menolak, akhirnya menandatangani ASEAN Treaty of Amity and Cooperation (TAC), ikut bergabung dengan KTT Asia Timur (East Asia Summit), menandatangani Comprehensive Partnership dengan Indonesia, mengubah pola hubungan Myanmar, dan menempatkan ASEAN dalam posisi kunci dalam manuver "pivot" AS di Asia Pasifik.

Namnun Hillary Clinton terserang kasus penggunaan e-mailpribadi untuk urusan rahasia negara sewaktu menjadi menlu, sekarang sedang ditangani FBI dan masih belum jelas langkah apa yang akan diambil aparat hukum AS ke depan.

Berbeda dari Hillary yang mempunyai track record international jelas, pandangan Donald Trump mengenai dunia penuh misteri dan minim konsep.

Sedangkan Trump juga tersandung kontroversi akibat penyataan-pernyataanya yang tidak senonoh tentang Muslim dan Hispanic. Tak sampai disana klaim Istri Ketiga Trump yang menyatakan diri sebagai sarjana Arsitetur juga mengundang kecaman, sebagai kebohongan publik, karena Melania Trump tidak menyelesaikan kuliahnya, demi mengejar karirnya sebagai model. Tetapi popularitas dan elektabilitasnya semakin tinggi.

Kalau Trump menjadi Presiden pada February 2017, dapat dipastikan akan terjadi perubahan gaya dan substansi dalam politik luar negeri AS.  Kecenderungan bullying dan jingoisme (yang dalam era Obama semakin surut) akan kembali mencuat. Demikian pula sikap memaksakan pendapat, serta mengganjar negara lain yang berbeda pendapat.

Trump juga mengusulkan untuk membangun dinding pembatas antara AS dan Meksiko, ketika ditanyakan bagaimana jika Pemerintah Meksiko tidak bersedia membiayai dinding perbatasan yang diusulkannya untuk mencegah imigran gelap, Trump dengan ringan menyatakan, ia akan memaksa Meksiko untuk bertekuk lutut, padahal Meksiko adalah negara sahabat AS. Tidak heran semangat anti-Trump semakin tumbuh di Meksiko.

Bila Hillary terlatih untuk menjaga kepala dingin, Trump dengan obsesinya untuk membuat Amerika "win, win, win". Jikalau cara-cara seperti ini terus berlanjut, gejala anti-Amerika akan semakin meninggi, bukan saja di kalangan negara-negara non-Barat, namun juga di kalangan sekutunya sendiri.

Tidaklah mengherankan kalau The Economists Intelligence Unit (EIU) baru-baru ini mengeluarkan laporan yang menyatakan, terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS akan menjadi salah satu dari 10 ancaman terbesar dunia baik bagi ekonomi, politik, dan keamanan.

Pemilu 2016 ini karenanya benar-benar pertarungan nyawa mengenai jati diri AS di abad-21, apakah akan mengedepankan naluri "ugly American" atau "good American" yang selama ini sama-sama eksis. Pertarungan ini hanya bisa diselesaikan oleh rakyat Amerika sendiri.

No comments:

Post a Comment